Gunungan

Gunungan atau kayon selalu terdapat dalam pagelaran wayang. Dinamakan gunungan karena bentuknya yang mirip gunung mengerucut keatas. Gunungan telah dipsang  sebelum pagelaran wayang atau pakeliran dimulai. Ditancapkan ditegak lurus di tengah kelir. Setelah pertunjukan dimulai gunungan ditancapkan pada simpingan kiri dan simpingan kanan.

Jenis kayon atau gunungan ada dua. Pada saat ini, para seniman tlatah sungging yang mempunyai pengetahuan pedalangan telah membuat kreasi bentuk gunungan atau kayon, tapi yang baku ada dua, yaitu Kayon Gapuran dan Kayon Blumbangan.

Ciri Gunungan atau Kayon Gapuran :

1. Bentuknya ramping.
2. Lebih tinggi dari kayon blumbangan.
3. Bagian bawah berlukiskan gapura.
4. Samping kanan dan kiri dijaga dua raksasa kembar. Cingkarabala dan Balaupata yang memegang tameng, gada dan pedang.
5. Bagian belakang bergambar api berkobar merah membara.

Ciri Gunungan atau Kayon Blumbangan :

1. Bantuk pendek.
2. Lebih pendek dari kayon gapuran.
3. Bagian bawah bergambar kolam dengan air yang jernih.
4. Di tengah kolam ada gambar ikan berhadap-hadapan.
5. Bagian belakang bergambar api berkobar merah membara biasanya juga terdapat luisan kepala makara.

Gunungan Bagian Dalam Melukiskan :

1. Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga.
2. Dua raksasa kembar lengkap dengan peralatan jaga.
3. Dua naga kembar bersayap.
4. Macan/harimau berhadapan dengan banteng.
5. Pohon besar yang tinggi dibelit dengan ular besar dengan kepala berpaling ke kanan.
6. Dua kepala 1makara di tengah pohon.
7. Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas pohon.
8. Dua ekor ayam hutan sedang bertengger di atas pohon

Kegunaan Gunungan atau Kayon

1. Tanda dimulainya pagelaran wayang kulit dengan dicabutnya kayon lalu ditancapkan pada sumpingan kiri dan kanan.
2. Tanda pergatian adegan atau tempat.
3. Untuk menggambarkan suasana.
4. Untuk menggambarkan sesuatu yang tidak ada wayangnya.
5. Untuk pergantian waktu.
6. Menggambarkan air, api, angin.
7. Tanda berakhirnya pentas pakeliran wayang kulit dengan menancapkan kayon ditengah-tengah kembali.

Makna Gunungan Wayang

Gunungan atau kayon berbentuk kerucut (lancip) mencuat keatas melambangkan kehidupan manusia, semakin tinggi ilmu kita dan bertambah usia, kita harus semakin mengerucut manunggalin Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa dan Karya dalam kehidupan kita. Hidup manusia untuk menuju yang diatas.

Gapura dan dua 2penjaga adalah lambang hati manusia, yaitu ada yang baik dan buruk. Tameng dan gada/pedang yang dipegang para penjaga ditafsirkan sebagai penjaga alam gelap dan terang.

Hutan(pohon) dan binatang, lambang kehidupan dari berbagai sifat dan tabiat manusia.

Pohon yang tumbuh menjalar keseluruh badan dan puncak gunungan melambangkan segala budi-daya dan perilaku manusia harus tumbuh dan bergereak maju sehingga bisa bermanfaat serta mewarnai dunia dan alam semesta. Pohon ini melambangkan Sang Pencipta telah memberi pengayoman dan perlindungan bagi manusia yang hidup di dunia ini.

Burung melambangkan manusia harus membuat dunia dan alam semesta menjadi indah dalam spiritual maupun material.

Banteng melambangkan manusia harus kuat, lincah, ulet, teguh, tangguh, 3tatag, tanggap dan 4tanggon.

Harimau melambangkan manusia harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri (memiliki jati diri) sehingga harus mampu bertindak bijaksana dan mampu mengendalikan nafsu, serta hati nurani untuk menuju yang lebih baik dan maju, sehingga bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan alam semesta. Harimau adalah binatang yang memiliki kehormatan. Karena bila manusia tidak mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan tidak mampu mengendalikan diri sendiri akan berakibat fatal dan semua akan hancur musnah seperti halnya gunungan wayang bila dibalik menjadi berwarna merah menyala atau terbakar.

Kera melambangkan manusia harus mampu memilih dan memilah antara baik-buruk, manis-pahit seperti halnya kera dapat memilih buah yang baik, matang dan manis, sehingga diharapkan bisa bertindak yang baik dan tepat.

Kepala Raksasa melambangkan manusia dalam kehidupan sehari-hari juga mempunyai sifat rakus dan jahat. Pemahaman ini agarsetiap manusia menjadi mawas diri dan memerangi diri sendiri untuk mengendalikan hawa nafsunya.

  1. makluk kuno
  2. Cingkara Bala dan Bala Upata
  3. Tatag: artinya tidak memiliki rasa “sumelang” atau was-was. Orang seperti ini akan selalu “siap” melaksanakan tugas.
  4. Tanggon artinya dapat diandalkan. “Tangguh” saja, kalau tidak dapat diandalkan tentunya percuma.